Mumpung ada jeda menuju perang lawan fisika, kali ini ane
mau ngebahas masalah pengaruh belajar efektif pada kemampuan seseorang. Ane
yakin kalo sebenernya tiap orang itu punya kemampuan berpikir/otak yang sama,
Allah Maha Adil kok.. cuman ya itu, semuanya tergantung usaha dan ikhtiar
masing-masing. Bicara soal fisik, memang secara fisik orang terlihat beda/sangat
berbeda. Ada yang ganteng ada yang
kurang ganteng, ada yang manis ada yang kurang manis. Cuman... nyatanya.. fisik
itu hanya sebatas opini tiap orang. Mungkin sebagian orang berkata dia cantik..
dia ganteng.. dia kurang ganteng.. dia kurang cantik, tapi sebagian lagi beropini lain. Yup, semua
orang itu sebenernya terlahir sama secara fisik (cantik dan ganteng semua), namun hanya mereka (pria/wanita) yang
tepat yang dapat melihatnya, cies wekeke
Back to topic.
Menurut ane, aslinya kemampuan otak/berpikir manusia itu hanya dipengaruhi oleh
3 faktor :
- Usaha
- Ikhtiar
- Percaya dengan kemampuan yang dimiliki.
Dengan sedikit dukungan dari
faktor genetik, dan bawaan lahir.
Yang pertama usaha, usaha dalam hal ini bukan berarti
seseorang harus berusaha (belajar) tiap waktu. Fisik manusia kan gabisa dibohongi
ya to, kodrat manusia bukan robot (ga bisa dicharge waktu lemes, ga bisa
diservice waktu sakit, apalagi NON GARANSI). Tapi bagaimana mereka mampu
memanfaatkan waktu luang yang ada secara 'efektif' dan 'effisien'. Efektif
disini maksudnya adalah orang tersebut tidak dalam kondisi memikirkan hal
lain/berada pada suatu kondisi dimana seseorang tidak mampu berkonsentrasi
dengan apa yang sedang ia hadapi. Sedangkan effisien disini maksudnya adalah
waktu 'efektif' yang dia manfaatkan benar-benar termanfaatkan secara maksimal.
Misal ente diberi uang 1T dan HANYA bisa dimanfaatkan dalam
waktu 1 menit sedangkan posisi ente ada di antara mall dan panti asuhan (dengan
catatan uang sisa harus dikembalikan). Lumrahnya pasti ente akan langsung
capcus ke mall buat belanja kan? Tapi inget, sampai di mall kalian akan
kehilangan waktu hanya untuk mengikuti nafsu kesana-kesini (mau buat beli apa
ya? Beli apa ya? Beli apa ya?) yang berujung waktu yang tersedia habis, itu
asumsi terburuknya. Asumsi yang rada lumayan baik, misal ente-ente sempet beli
sesuatu (misal habis 1jt), batin ente akan kerasa tertekan meskipun secara
fisik ngga. Wajarnya, di umur ente yang tersisa, ente akan ditekan oleh
bayang-bayang uang 999.999.999.999 juta rupiah yang angus karena ngga bisa dimanfaatin
dulu wk.

Beda kalo 60 detik tadi dimanfaatin buat mendonasikan uang
yang diterima ke panti asuhan. Bayangin uang segitu bisa buat anak yatim piatu
sampe ribuan turunan, ngga cuma sampe turunan ke-7 doang. Secara
fisik/lahiriyah mungkin ente akan sedikit menyesal, tapi secara batiniyah ente
akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa (amal jariyah bos). Ente akan idup
tenang karna uang tadi bisa dimanfaatkan sepenuhnya, apalagi buat harkat hidup
orang banyak. Cuman orang begini nih yang jarang ditemui wekeke
Back to topic again.
Dengan memanfaatkan setiap kondisi yang ada dengan efektif,
hasil yang didapat akan menciptakan kurva positif (dari kiri bawah ke kanan
atas) kalo digambarkan dengan grafik.
Bicara soal kemampuan otak yang merupakan ide pokok artikel
ini, ane punya tetangga-tetangga yang bisa dikatakan super dewo. Entah gimana
cara mereka memanfaatkan waktu luang yang ada dengan maksimal. Gimana ngga
penasaran, ada yang bisa dapet emas nasional (entah udah dapet berapa), ada yang dapet perak internasional, IP 4, IP
3,94 dsb.
Setelah ditelusuri, ternyata mereka-mereka itu bener-bener
memanfaatkan waktu yang ada secara efektif dan semaksimal mungkin.
Contohnya,
Tabel Penggunaan Waktu Para Pelajar
Ane tekankan lagi, waktu belajar yang ada di tabel diatas merupakan waktu efektif.
Efektif disini maksudnya adalah orang tersebut tidak dalam kondisi memikirkan hal lain/berada pada suatu kondisi dimana seseorang tidak mampu berkonsentrasi dengan apa yang sedang ia hadapi.
Ini dia grafiknya. (maaf ancur)
Grafik Lamanya Waktu Belajar
Jadi semakin besar sudut yang dibentuk kurva dengan garis horizontal, semakin jauh jarak yang mereka tempuh.
Contoh sederhananya.
Misalnya kita anggap 1 jam belajar = 1 km
Jadi dalam 1 tahun si G akan menempuh jarak :
365,25 x 7,5 x 100 = 2,74125 x 10^6 meter
sedangkan si A
365,15 x 4,5 x 100 = 1,643625 x 10^6 meter
Selisih jarak diantara keduanya
= 2,74125 x 10^6 meter - 1,643625 x 10^6 meter
= 109,7625 km !
Jadi, setiap tahun si A akan tertinggal sejauh 109,7625 km ! Padahal 1jam diwakilkan dengan 1 km, jadi si A perlu belajar +- 110 jam lagi untuk mengejar ketertinggalan. Atau dalam kata lain, dengan intensitas belajar/hari yang sama seperti biasanya. Si A tertinggal 24,4 hari !
Kalo digambarkan pake peta dengan starting point yang sama (kebumen) ke arah timur. Si A lagi manasin mesin, si G udah ampir sampe klaten..
Selain itu, si A akan idup dibawah bayang bayang masa lalu si G ( dalam saat yang sama ketinggalan 24 hari bos). Bayangin aja saat si G lagi nonton final piala dunia, si A baru nonton penyisihan grup matchday #2.
tau orang yang ada di foto diatas ga? siapa hayo? hahaha
Kalo ngga salah hukum ketiganya berbunyi F aksi = -F reaksi , dalam hal ini usaha (belajar) yang ente-ente lakukan akan sebanding dengan hasil yang diperoleh. Artinya gini, ketika ente memberikan gaya berupa belajar dalam ruang dan waktu (cies..), ruang dan waktu akan memberikan gaya balik berupa hasil dari jerih payah ente wekeke
LANGSUNG...
To be continued setelah uts misal sempet....